F1 2011 Rfactor IWK F1 championship Indonesia Catalunya, Spain
V8 Supercars 2011 Rfactor IWK V8 Championship Queensland Raceway
1. orang banyak bertanya dan heran, ko tiba tiba si ‘X’ jadi rajin solat dan tilawah gitu sih? oh pasti gr” ramadhan ya
2. banyak orang mmandang ngatif kpada orang” yang ingin mningkatkan kpsitas drnya seperti yg si X lkukan td, saya pun smpat brpndangan sprt itu
3. banyak orang mmandang ngatif…
ketika seseorang mempunyai pengetahuan akan sesuatu, maka itu bisa kita sebut sebagai ilmu.
ilmu itu dapat mendatangkan manfaat bagi seseorang yang dapat menguasai ilmu tersebut secara komprehensif.
sang pemilik ilmu itu ingin menyebarluaskan ilmu tersebut. agar orang lain dapat merasakan manfaatnya juga. untuk menjadi manfaat bersama.
namun, untuk mentranfer ilmu itu bukan perkara mudah. ilmu tersebut harus dibentuk menjadi suatu kurikulum agar dapat dipelajari oleh semua orang.
sang pemilik ilmu tersebut bingung, bagaimana cara membangun suatu kurikulum?
ada yang bisa bantu?
Perhaps one of the best anti-smoking ads ever created (by Eyad Alasibi)
- orang thailand kalo bikin iklan jago banget bikin ‘nyentuh’ -

tiba2 tari tor-tor jadi nge-hype gini euy gara2 ceunah diklaim ama malaysia. saya sendiri sebelumnya ga tau apa itu tari tor-tor… mungkin bukan cuma saya, mungkin anda, dan bahkan kebanyakan dari kita semua ga tau sebelumnya apa itu tari tor-tor (setelah saya cari via google, tari tor-tor itu tarianasal batak yang diiringi musik)

saya bukan mau membenarkan atau menyalahkan suatu pihak karena acap kali saya meragukan kebenaran media hahaha..
saya ingin melihat ini sebagai suatu hikmah yang mungkin bisa diambil oleh kita semua. karena ingin bukan pertama kalinya ada ‘peng-klaim-an’ budaya Indonesia oleh tetangga kita. masih menempel diingatan saya yang kasus lagu rasa sayange, angklung, reog ponorogo, dkk..
gini analoginya, kalo lo punya temen yang berbuat salah. lo ingetin, dengan cara yang menurut lo paling benar atau “efektif”, dan kalo perlu “tampol” temen lu biar dia sadar hehehe
hipotesis gue, gue pikir malaysia-indonesia itu sahabat, budaya-fisik-kemasyarakatan kita itu mirip (you dont say, kan satu rumpun melayu hehe). nah ceritanya itu malaysia melihat indonesia terkikis niatannya dalam pelestarian budayanya..
nah malaysia ini mungkin melakukan semacam analisis kondisi dengan melihat karakteristik warga indonesia (yoi kan sahabat harus kenal banget dong)gimana caranya supaya indonesia mau gamau kembali melestarikan dan bangga dengan budaya.. nah caranya si malaysia ini pengen menguji kita dengan sengaja pura-pura ngeklaim salah satu budaya kita.
hasilnya? wahh heboh tenan, budaya yg diklaim langsung jadi trending topic, masuk Tiviwan pagi-pagi ngundang ahli budaya, dll. intinya kita jaditau, aware, dan muncul sense of belonging terhadap budaya yg ceritanya diklaim. capiche?
nah jadi itu hikmahnya sodara-sodara.
sampai sekarang… apa benar budaya-budaya yang diklaim tersebut benar-benar menjadi milik mereka?
ga la yaw.. respon indonesia selalu reaktif! sukses benar cara sahabat kita (baca: Malaysia) melakukan intervensi untuk kebaikan indonesia :D
aduh sbnrnya masih ada yang mau saya tulis tapi tiba2 lupa hehe.. yaudah doakan aja saya supaya sering2 nulis.
Saya lagi nonton the social network trus ada dialog yang menginspirasi gitu, ternyata orang” harvard punya mindset ‘harus buat lapangan pekerjaan’
Ini harus di tiru oleh kita dan maaf nih kalo bawa bawa ITB, saya hanya berusaha berbagi pandangan aja, dan sory ya kalo caranya sarkastik
saya ga nyalahin alumni yang ‘terpaksa’ kerja di perusahaan asing yang merauk kekakyaan Indonesia. saya yakin mereka yang ‘terpaksa’ itu akan segera pulang untuk membangun Indonesia
Saya hanya bingung ama orang yang bangga kerja di perusahaan asing. Atau mungkin mereka tidak tahu mengenai kapatilasme negara? dimana perusahaan multinasional ialah ‘tentara-tentara’ yang telah melakukan penjajahan jenis baru?
saat KU kemarin, saya tidak terbersit untuk bekerja di Unilever.
justru yang sangat overwhelming bagi saya itu adalah bagaimana caranya membangun perusahaan sesukses Unilever?
how to jump-off those national boundaries?
how to integrate all the aspects in harmony?
enggak mudah untuk menuju green and sustainable company sementara cashflow perusahaan tetap sehat dan bisa ngasih gue 3 magnum (atau mereka menetapkan parameter yang rendah lalu boasting it with words play and tricks as what all the marketers did)
yang bikin saya bertanya-tanya adalah kenapa kok kita ga ditawarin di bagian Research and Development? *yep it’s sort of a classified thing alike in many other company. a grey zone.* the main thing is, what policies and regulations the unilever HQ assigned on our country?
i aint being sceptical, just being deliberative and curious.
pengennya sih memajukan perusahaan lokal yang telah merambah pasar global malah *somesay idealis banget nih* tapi inilah bagian dari integritas. dan saya tidak maksud juga untuk menjudge yang pengen kerja di perusahaan asing multinasional tidak idealis. bukan. malah dari situ juga bisa membawa hal-hal baik dari berbagai aspek yang kemudian bisa diterapkan disini. semacam katalis. betul?
intinya, marilah fokus buat sesuatu yang menambah bargaining power negara kita terhadap negara lain. jangan cuma ekspor TKI dan raw materials (yang mentah2 gitu). tapi coba kita berikan value-added goods, show’em that we dont need’em but show’em that they need us!
Hari sabtu yang lalu, bertepatan dengan tanggal 21 April 2012, ialah hari yang bersejarah pada hidup saya. Selain hari tersebut diperingati sebagai Hari Kartini, hari itu juga saya peringati sebagai hari yang menambah wawasan dan pandangan saya mengenai apa itu ibu dan emansipasi wanita. (dan juga…
this’s worth sharing (y) sedih skrg gembor sekali pencitraan bahwa orientasi yang harus dikejar adalah penampilan, material, dan kedudukan :((

